Setelah ditangkap oleh pasukan Romawi dan hampir dibunuh oleh massa, Paulus mendapat kesempatan untuk berbicara kepada orang banyak yang memusuhinya.
Apa yang akan Paulus katakan kepada mereka yang baru saja berusaha membunuhnya? Apakah ia akan membela dirinya, ataukah ia akan menggunakan kesempatan itu untuk bersaksi tentang Kristus?
Paulus tidak menggunakan kesempatan itu untuk membela diri atau membalas tuduhan yang diarahkan kepadanya. Sebaliknya, ia mulai menceritakan bagaimana Tuhan telah mengubah hidupnya.
Dia bercerita mulai dari sebelum mengenal Kristus hingga bagaimana hidupnya berubah dalam perjalanan menuju Damsyik.
Pertemuan dengan Kristus itu mengubah arah hidupnya. Dari seorang penganiaya jemaat, ia menjadi pemberita Injil. Dari orang yang melawan Kristus, ia menjadi hamba Kristus.
Masa lalu Paulus penuh dengan kesalahan. Namun Tuhan tidak membuangnya. Sebaliknya, Tuhan mengubah hidupnya dan memakainya untuk pekerjaan yang besar.
Demikian juga dengan kita. Mungkin ada masa lalu yang membuat kita menyesal. Mungkin ada kegagalan, dosa, atau keputusan yang keliru yang masih membebani hati kita. Namun Tuhan yang mengubah Paulus adalah Tuhan yang sama yang sanggup mengubah hidup kita hari ini.
Tuhan tidak mencari masa lalu yang sempurna, melainkan hati yang bersedia datang kepada-Nya.
Firman Tuhan berkata:
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
2 Korintus 5:17
Hari ini kita belajar bahwa Injil bukan sekadar mengubah perilaku seseorang. Injil mengubah hati, tujuan hidup, dan arah kehidupan seseorang.
Tidak ada kehidupan yang terlalu rusak untuk dipulihkan oleh Tuhan, dan tidak ada orang yang terlalu jauh untuk dijangkau oleh kasih karunia-Nya.
Kiranya pengalaman Paulus mengingatkan kita untuk tidak pernah meragukan kuasa Tuhan yang sanggup mengubah hidup manusia.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin