Renungan

Nasi Menjadi Bubur

Shabbat Shalom!

Tentu kita sangat mengenal istilah “Nasi telah menjadi bubur” bukan?

Dan jika nasi sudah menjadi bubur, bisakah bubur kembali menjadi nasi? Tentu saja tidak bisa, bukan?

Pernahkah kita ketinggalan kereta atau pesawat karena kita datang terlambat?

Jika kita pernah tertinggal, maka kita pasti menyesal dan berharap kita dapat bangun lebih pagi sehingga tidak ketinggalan kereta atau pesawat. Namun kenyataanya tidak mungkin! Karena hari itu sudah tidak bisa terulang kembali.

Begitu pula dengan kehidupan kita, setiap keputusan salah yang kita ambil, tidak dapat kita ulang kembali.

Oleh karena itu, ada satu kutipan menarik hari ini mengenai nasi telah menjadi bubur. Kutipan yang menceritakan bagaimana jika mereka (orang-orang yang jalan di jalan yang lebar) ditanya mengenai persiapan mereka menghadapi penghakiman Tuhan.

“… mereka akan menyahut, sekiranya dapat kembali hidup pada masa lalu, mereka akan memperbaiki hidup, menolak kebodohan dunia, kesia-siannya, keangkuhannya, dan akan menghias tubuh dengan kesederhanaan, dan menjadi teladan bagi semua di sekitar mereka.”

Amanat Kepada Orang Muda 152.3

Tetapi semuanya sudah terlambat… Nasi telah menjadi bubur.

Penyesalan selalu datang terakhir.

Kutipan yang kita baca tadi diberikan kepada kita sebagai peringatan agar kita tidak menjadi bubur. Artinya kutipan ini diberikan kepada kita karena kita masih memiliki kesempatan dan tidak menjadi seperti mereka yang pada akhirnya menyesal. Kita masih memiliki kesempatan saat ini.

Jadi, saudara-saudaraku yang terkasih… Jika hari ini kita masih mendengar nasihat dari Tuhan. Jika hari ini kita masih mendengar teguran dari Tuhan, maka bersyukurlah…Karena firman Tuhan katakan, “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.” (Ayub 5:17)

Dan di dalam Wahyu 3:19 juga dikatakan bahwa “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

Jadi ingatlah! “…Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7)

Banyak orang yang memiliki prinsip “hidup hanya sekali, jadi hiduplah sesuka hati dan nikmati  kenikmatan yang dunia berikan ini.”

Prinsip itulah yang membuat banyak orang tidak peduli dengan kehidupan rohani mereka saat ini.

Seharusnya kita berprinsip, “karena hidup hanya sekali, itulah sebabnya saya harus menggunakan waktu dan hidup saja dengan bijaksana dan sesuai dengan kehendak Tuhan.”

Hari ini kita masih punya kesempatan untuk bertobat. Oleh karena itu, jangan terlambat untuk berbalik kepada Tuhan.

Selamat Sabat dan Tuhan memberkati.

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 8 (Bagian 9) – Roh Kudus Menolong dalam Kelemahan Kita

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus…

4 hours ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 8) – Menantikan Penebusan dengan Tekun

“Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga…

1 day ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 7) – Dua Pengkhotbah

Renungan hari ini panjang. Pastikan Anda menyediakan waktu khusus untuk membaca sedikit lebih lama dari…

2 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 6) – Penderitaan Sekarang dan Kemuliaan yang Akan Datang

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan…

3 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 5) – Anak-Anak Allah

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah…

4 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 4) – Mematikan Perbuatan Daging

“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan…

5 days ago