Keadaan dilematis tidak hanya dialami oleh kita, tetapi para tokoh besar di dalam Alkitab Pun juga pernah mengalami hal dilematis. Hari ini kita akan melihat dua tokoh; yang pertama adalah kisah Abraham di dalam Kejadian 12:10-12. Di satu sisi jika ia tetap tinggal di tanah perjanjian, Abraham dan keluarganya akan mati karena kelaparan hebat yang sedang terjadi. Tetapi jika ia pergi ke Mesir, Sarai, istrinya yang sangat menawan itu, akan diambil daripadanya.

Sayangnya Abraham tidak berdoa dan meminta petunjuk dari Tuhan, sehingga ia mengambil keputusan yang mengakibatkannya berbuat dosa. “Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau. (Kejadian 12:13).

Gantinya, dengan caranya sendiri, ia berpikir terlalu jauh. Akibatnya, Firaun mengambil Sarai sebagai istri. Lalu Tuhan campur tangan dan hukuman jatuh kepada Firaun (Kejadian 12:17) dan Abraham tidak bisa tinggal di Mesir (Kejadian 13:1).

Mungkin saja jika Abraham tidak berbohong, apa yang ia takutkan di ayat 12 tidak terjadi. “Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup.” (Kejadian 12:12). Mungkin saja Firaun akan membiarkan Abraham tinggal di Mesir dengan aman dan tenang.

Kisah yang kedua adalah kisah setelah Daud lari dari Saul. Saat itu Daud ada di Nob, di hadapan imam Abimelekh dalam keadaan yang ketakutan dan juga lapar. Sayangnya iman Daud tertutup oleh ketakutannya. Oleh karena itu, saat imam bertanya, “Mengapa engkau seorang diri dan tidak ada orang bersama-sama dengan engkau?” Dengan pikirannya sendiri ia berdusta, “Raja menugaskan sesuatu kepadaku, katanya kepadaku: Siapapun juga tidak boleh mengetahui sesuatu dari hal yang kusuruh kepadamu dan yang kutugaskan kepadamu ini. Sebab itu orang-orangku telah kusuruh pergi ke suatu tempat. Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apapun yang ada. (1 Samuel 21:1-3).

Akibat dosa kebohongan Daud itu mendatangkan kematian imam (1 Samuel 22:18). Kisah yang sangat tragis.

Dua kisah di atas mengingatkan kita untuk selalu menomorsatukan Tuhan di atas segala keputusan kita. Miliki kebiasaan untuk selalu berdoa kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan; kebiasaan untuk mengikutsertakan Tuhan dalam setiap rencana-rencana kehidupan kita. Dan lihatlah tuntunan Tuhan yang luar biasa, bahkan di dalam keadaan dilematis dan terjepit sekalipun.

“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”

Amsal 30:7-9

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 3) – Ketika Tuhan Menggagalkan Rencana Manusia

Ketika pelayanan Paulus di Korintus semakin berkembang, orang-orang Yahudi yang menolak Injil mulai melawan Paulus.…

22 hours ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 2) – Jangan Diam

Di Korintus, pelayanan Paulus tidak selalu berjalan mudah. Ketika ia memberitakan Injil, sebagian orang mulai…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 1) – Menjadi Saksi

Setelah meninggalkan Atena, Paulus tiba di Korintus. Di sana ia bertemu dengan sepasang suami istri,…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 4) – Tetap Setia Menyampaikan Kebenaran

Setelah Paulus menjelaskan tentang Allah yang benar di Atena, ia mulai berbicara tentang pertobatan dan…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 3) – Religius Belum Tentu Mengenal Tuhan

Setelah meninggalkan Berea, Paulus tiba di Atena, sebuah kota yang penuh dengan filsafat, budaya, dan…

5 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 2) – Kebenaran Tidak Dapat Dihentikan

Setelah banyak orang di Berea menerima firman Tuhan, kabar itu sampai kepada orang-orang Yahudi di…

6 days ago