Seri Lebih Baik Mati

Lebih Baik Mati (Bagian 16) – Akankah Pemaksaan Serupa Terjadi pada Kita?

Setelah kita membahas beberapa tokoh, hari ini kita akan kembali lagi membahas kisah Hananya, Misael, dan Azarya yang sudah sempat bahas pada bagian 2 dan 3.

Mengapa kita membahas kisah ini? Karena dari kisah ini, kita akan belajar hal lainnya, yaitu mengenai hal yang serupa yang akan terjadi di akhir zaman.

Ingatlah bahwa Raja Nebukadnezar mengeluarkan suatu perintah atau undang-undang yang memaksa orang untuk menyembah patung yang sudah dibuatnya. Bagi siapa pun yang tidak mau menyembah patung itu, maka mereka akan dilemparkan ke perapian.

Dan kita tahu kisahnya bahwa pada akhirnya, ada tiga pemuda Ibrani yang tidak mau menyembah patung walaupun risikonya adalah kematian.

Pelajaran-pelajaran yang dapat dipelajari dari pengalaman ketiga orang Ibrani itu adalah penting.

“Pada zaman kita ini, banyak dari hamba-hamba Allah, walaupun tidak melakukan kesalahan sama sekali, akan diserahkan untuk menderita penghinaan dan tindakan sewenang-wenang di tangan mereka yang diilhamkan Setan, yang penuh dengan permusuhan dan kemabukan agama.”

Para Nabi dan Raja 298.4

Jadi, jika di zaman ketiga pemuda Ibrani, dikeluarkan suatu undang-undang yang memaksa seseorang untuk menyembah patung. Pertanyaannya apakah akan terjadi suatu pemaksaan serupa di masa yang akan datang?

Jawabannya adalah “Ya!”

Mengapa? Karena Alkitab sendiri mencatat bahwa akan ada waktunya “… semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh. dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.” (Wahyu 13:15, 17)

Artinya akan ada undang-undang yang dikeluarkan untuk memaksa kita menyembah patung binatang dan memakai tanda binatang itu.

Jika kita tidak mau memakai tanda binatang itu, maka bisa jadi kita akan menderita bahkan mati.

Nah, mungkin kita bertanya, “Apa itu tanda binatang? Bagaimana tanda binatang bisa berhubungan dengan pemaksaan?” Untuk menjawab pertanyaan ini, ikuti terus pembahasannya karena akan dibahas di seri selanjutnya.

Pelajaran bagi kita hari ini adalah semua yang pernah terjadi, akan terjadi lagi. Pengkhotbah mencatat bahwa “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” (Pengkhotbah 1:9)

Oleh karena itu, pelajari apa yang sudah pernah terjadi. Pelajari Alkitab kita karena “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” (1 Korintus 10:11)

Kiranya kita semua bisa mempersiapkan diri kita dalam menghadapi krisis akhir zaman yang ada di depan kita.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 3) – Religius Belum Tentu Mengenal Tuhan

Setelah meninggalkan Berea, Paulus tiba di Atena, sebuah kota yang penuh dengan filsafat, budaya, dan…

60 minutes ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 2) – Kebenaran Tidak Dapat Dihentikan

Setelah banyak orang di Berea menerima firman Tuhan, kabar itu sampai kepada orang-orang Yahudi di…

1 day ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 1) – Belajar Seperti Orang Berea

Dalam perjalanan pelayanannya, Paulus dan Silas tiba di Tesalonika lalu memberitakan Injil di rumah ibadat…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 16 (Bagian 4) – Pertolongan Tuhan Tidak Pernah Terlambat

Setelah gempa bumi terjadi dan kepala penjara bertobat, keadaan mulai berubah bagi Paulus dan Silas.…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 16 (Bagian 3) – Tetap Memuji Tuhan di Tengah Penderitaan

Setelah Tuhan membuka hati Lidia dan keluarganya menerima Injil, pelayanan Paulus dan Silas di Filipi…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 16 (Bagian 2) – Hati yang Terbuka bagi Tuhan

Setelah mendapat penglihatan tentang orang Makedonia, Paulus dan rekan-rekannya segera berangkat ke Filipi untuk memberitakan…

5 days ago