Renungan

Sudah Terlambat – Part 1

Di pagi hari saat kita melihat jam sudah menunjukkan akan mulai jam sekolah maupun bekerja tetapi kita baru saja membuka mata dan masih terbaring di tempat tidur, pastilah mata yang tadinya masih berat akan terbelalak dan melotot dengan jantung juga akan berdetak cukup cepat. Dan akhirnya kita cepat-cepat menuju ke kamar mandi dan terkadang sampai lupa untuk membawa handuk, lalu kita bergegas dan bertindak lebih terburu-buru dari biasanya karena sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai.

Kita juga akan sarapan dengan tergesa-gesa, bahkan mungkin melewatkannya. Kita juga mungkin memulai perjalanan tanpa berdoa atau mungkin berdoa, tetapi “dalam nama Yesus saja lah sudah cukup”, lalu ketika dijalan kita mulai tancap gas dan tidak menghiraukan pengguna jalan lain. Mungkin juga ketika di lampu lalu lintas, walaupun lampu masih kuning tetap saja tidak bersiap untuk berhenti, justru akan tancap gas lebih lagi agar tidak terjebak lampu merah. 

Pernahkah kalian melihat suatu kecelakaan di lampu merah dan melihat betapa mengerikannya kendaraan yang saling bertabrakan? Apa penyebabnya? Biasanya disebabkan karena mereka tidak taat pada aturan lalu lintas, salah satunya adalah pada lampu lalu lintas.

Seperti kebiasaan sebagian orang “kalau masih kuning ya lewat saja mumpung belum merah kan?!” 

Kita tahu warna kuning itu memberikan kita suatu peringatan untuk berhenti dan sering juga ketika merah beberapa dari kita juga melanggarnya.

Ada peribahasa “penyesalan datang belakangan” dan sekarang kita ganti “peringatan mencegah penyesalan” Mana yang lebih enak? Pasti yang diperingatkan dulu kan? 

Aturan itu dapat dianalogikan seperti pagar. Pagar di gunung, dibuat untuk menjadi pembatas agar tidak jatuh ke jurang, dan mirisnya banyak dari kita lebih ingin mencoba untuk melewati pagar itu sehingga berakhir dengan tragis. 

Hukum Tuhan adalah aturan yang dibuat untuk menjaga kita dari hal-hal yang tidak baik, yang memberi batasan dan menjauhkan kita dari jurang dosa.

Mari kita belajar menyukai aturan Tuhan dan berkata, “Biarlah jiwaku hidup, supaya memuji-muji engkau, dan biarlah Hukum-hukum-Mu menolong aku.” (Mazmur 119:175)

Sekarang kita tahu melanggar aturan adalah hal yang hanya dapat menyebabkan kesengsaraan, dan berakibat buruk, lalu apakah konsekuensi sebenarnya saat kita melanggar aturan? Besok kita akan membahasnya.

Jadi, marilah kita berkata: “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.” (Mazmur 119:35)

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 6 (Bagian 7) – Pengudusan

“... Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan ...…

1 hour ago

Perenungan Roma 6 (Bagian 6) – Merdeka untuk Taat

“Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya,…

1 day ago

Perenungan Roma 6 (Bagian 5) – Jangan Biarkan Dosa Berkuasa

“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan…

2 days ago

Perenungan Roma 6 (Bagian 4) – Hidup bagi Allah dalam Kristus

“Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan…

3 days ago

Perenungan Roma 6 (Bagian 3) – Manusia Lama Sudah Disalibkan

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang…

4 days ago

Perenungan Roma 6 (Bagian 2) – Dikuburkan dan Dibangkitkan Bersama Kristus

“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti…

5 days ago