Renungan

Saya Harus Mengakuinya

Pernahkah kita datang pada tenaga medis atau dokter, kemudian Ia bertanya pada kita? Sebelumnya bagaimana pola hidup anda dan banyak pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan keluhan penyakit yang dirasakan?

Semisal sakit yang diderita adalah diare. Maka dokter akan mulai memeriksa dan bertanya, apakah merasa mual? Sebelumnya anda makan apa? Berapa kali buang air besar? Dan pertanyaan lainnya. Hingga akhirnya dokter itu mendiagnosis (penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti/memeriksa gejala-gejalanya) dengan mengatakan “anda diare karena ada bakteri, selanjutnya cobalah memilih makanan yang bersih dan tidak terbuka, tidak dihinggapi lalat, banyak minum air putih juga selama diare” dan banyak lagi saran yang diberikan. 

Tahukah anda? Jika pertanyaan yang diajukan oleh tenaga medis tersebut untuk menggali informasi mengenai penyebab dari keluhan/gejala penyakit yang dirasakan oleh pasien. 

Sebagai seorang pasien kita harus menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang diajukan tersebut. Jika kita berbohong atau tidak mengatakan dengan jujur apa yang ditanyakan, kemungkinan besar proses dari diagnosis terhambat dan saran untuk pencegahan penyakit di kemudian hari, juga salah.

Sebenarnya yang harus kita pahami adalah “Penyakit tidak pernah timbul tanpa sebab. Jalan terbuka, dan penyakit pun masuk karena mengabaikan hukum-hukum kesehatan.” (Membina Keluarga Sehat 209.1)

Kita telah banyak melanggar hukum alam, dan hukum Allah. Mari kita renungkan, jujurlah terhadap diri kita sendiri, banyak penyakit yang timbul karena kesalahan hukum alam. Walau ada beberapa penyakit yang timbul bukan karena diri kita. 

“Namun banyak sekali orang yang menderita karena tindakan mereka sendiri yang salah. Mereka mengabaikan prinsip-prinsip kesehatan melalui kebiasaan makan, minum, berpakaian dan bekerja. Pelanggaran hukum alam menimbulkan akibat yang pasti; dan bilamana penyakit menimpa mereka, banyak yang tidak menghubungkan penyakit itu dengan penyebab yang sesungguhnya, tetapi bersungut terhadap Allah karena penderitaan itu. Tetapi Allah tidak bertanggung jawab atas penderitaan akibat pelanggaran hukum alam.”

Membina Keluarga Sehat 209.2

Marilah kita merenungkan, Allah terlalu berkemurahan di dalam kehidupan kita, di dalam segala pergumulan kesehatan jasmani dan pikiran.

Oleh karena itu, jika kita sudah mendapat kesembuhan, ingatlah perkataan Yesus, “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yohanes 5:14)

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 5) – Jadilah Berkat di Mana Pun Tuhan Menempatkanmu

Selama tiga hari pertama di Pulau Malta, Paulus dan rombongannya diterima dengan ramah oleh Publius,…

28 minutes ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 4) – Jangan Hidup Berdasarkan Penilaian Manusia

Ketika ular berbisa menggigit tangan Paulus, penduduk Malta segera mengambil kesimpulan. Mereka berkata: "Orang ini…

1 day ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 3) – Jangan Membiarkan Racun Tetap Melekat

Ketika ular berbisa menggigit tangan Paulus, semua orang yang melihatnya langsung menyimpulkan bahwa ia pasti…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 2) – Tetap Melayani di Tengah Tantangan

Setelah tiba di Pulau Malta, Paulus bukan hanya berdiam diri menikmati kehangatan api yang telah…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 1) – Kasih yang Dinyatakan Melalui Orang yang Tidak Kita Duga

Setelah selamat dari badai yang dahsyat, Paulus dan seluruh penumpang kapal akhirnya tiba di sebuah…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 27 (Bagian 8) – Tuhan Setia Menepati Janji-Nya

Setelah berhari-hari diterpa badai, akhirnya kapal itu mendekati daratan. Para awak kapal berusaha mengarahkan kapal…

5 days ago