Setelah menjelaskan karakter yang harus dimiliki oleh seorang penatua, Paulus segera mengungkapkan alasannya. Jemaat di Kreta sedang menghadapi ancaman yang serius. Bukan ancaman dari luar, melainkan dari dalam. Ada orang-orang yang mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan dan menyesatkan banyak orang.
“Karena sudah banyak orang hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum sunat. Dengan omongan yang sia-sia mereka menyesatkan pikiran.”
Titus 1:10
Paulus menggambarkan mereka sebagai orang yang “tidak dapat ditundukkan,” “omongnya sia-sia,” dan “menyesatkan pikiran.” Mereka pandai berbicara, tetapi perkataan mereka tidak membawa orang semakin dekat kepada Kristus. Sebaliknya, mereka justru membingungkan dan menggoyahkan iman banyak orang.
Bahkan Paulus mengatakan bahwa mereka “mengacaukan seluruh keluarga” (ayat 11). Ini menunjukkan bahwa ajaran yang salah tidak pernah berhenti pada satu orang saja. Sedikit demi sedikit, pengaruhnya dapat merusak kehidupan keluarga, memecah jemaat, dan menjauhkan orang dari kebenaran.
Yang lebih memprihatinkan, Paulus mengungkapkan bahwa mereka melakukan semuanya itu “demi keuntungan yang memalukan.” Artinya, pelayanan mereka bukan didorong oleh kasih kepada Tuhan atau kerinduan menyelamatkan jiwa, tetapi oleh kepentingan diri sendiri.
Keadaan seperti ini tidak hanya terjadi pada zaman Paulus. Di zaman sekarang pun kita dapat menemukan banyak ajaran yang terdengar menarik, tetapi tidak sesuai dengan firman Tuhan. Ada yang lebih menonjolkan kesuksesan daripada pertobatan, lebih mengejar popularitas daripada kekudusan, atau lebih mengutamakan pendapat manusia daripada kebenaran Alkitab.
Karena itu, sebagai orang percaya kita tidak boleh menerima setiap ajaran begitu saja. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk menguji segala sesuatu dan berpegang pada yang baik.
Ukuran kebenaran bukanlah seberapa menarik suatu ajaran disampaikan atau seberapa banyak pengikutnya, melainkan apakah ajaran itu selaras dengan firman Allah.
Itulah sebabnya Paulus sebelumnya menegaskan bahwa seorang penatua harus “berpegang kepada perkataan yang benar sesuai dengan ajaran yang sehat” (ayat 9). Karena hanya ketika kita berakar dalam firman Tuhan, kita akan mampu membedakan antara kebenaran dan kesesatan.
“Pemalsuan itu akan begitu mirip dengan yang asli sehingga mustahil membedakannya kecuali melalui Kitab Suci. Dengan kesaksian Kitab Suci, setiap pernyataan dan setiap mukjizat harus diuji.”
The Great Controversy (1888 ed.), 593.1
Di tengah banyaknya suara yang bersaing memengaruhi hati dan pikiran kita, marilah kita terus membangun hubungan yang erat dengan Tuhan melalui doa dan pembelajaran firman setiap hari. Semakin kita mengenal kebenaran, semakin kecil kemungkinan kita disesatkan oleh ajaran yang kelihatannya benar, tetapi sebenarnya menjauhkan kita dari Kristus.
Selamat pagi, selamat Sabat, dan Tuhan memberkati kita semua. Amin