Setelah sidang di Yerusalem selesai, para rasul dan penatua mengambil keputusan mengenai persoalan yang sedang diperdebatkan di antara jemaat.
Mereka lalu mengirim surat kepada jemaat-jemaat non-Yahudi melalui Paulus, Barnabas, serta beberapa saudara lainnya.
Yang menarik, para pemimpin gereja tidak menyelesaikan masalah dengan emosi atau paksaan. Mereka mencari pimpinan Tuhan bersama-sama dan berusaha menjaga kesatuan jemaat.
Dalam surat itu tertulis:
“Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami …”
Kisah Para Rasul 15:28
Ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengandalkan pendapat manusia, tetapi sungguh mencari kehendak Tuhan.
Ketika surat itu dibacakan, jemaat bersukacita karena isi surat tersebut menghiburkan dan menguatkan mereka.
Perbedaan pendapat bisa terjadi bahkan di antara orang percaya. Namun yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.
Sering kali manusia lebih suka mempertahankan ego dan ingin menang sendiri. Akibatnya, hubungan menjadi rusak dan perpecahan muncul.
Melalui kisah ini, kita belajar bahwa jangan hanya mempertahankan pendapat sendiri, tetapi carilah kehendak Tuhan.
Kebenaran Tuhan harus disampaikan dengan kasih, hikmat, dan kerendahan hati karena orang yang dipimpin Tuhan akan belajar rendah hati dalam perbedaan.
Tujuan dari setiap perkataan dan keputusan seharusnya bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membangun dan menguatkan sesama.
Marilah kita belajar menjaga kesatuan dengan hati yang rendah dan mau dipimpin oleh Roh Kudus.
Kiranya perkataan, sikap, dan keputusan kita menjadi alat yang membawa damai, penguatan, dan kemuliaan bagi Tuhan.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin