Pasal ini terdiri dari dua perikop, dan hari ini kita akan membahas lanjutan dari pasal sebelumnya. Perikop pertama ini diambil dari ayat 1-18.
Perikop ini menceritakan saat Petrus dipertanyakan oleh orang-orang percaya di Yudea karena ia masuk ke rumah orang non-Yahudi dan makan bersama mereka. Bagi orang Yahudi saat itu, tindakan ini dianggap melanggar tradisi. Namun Petrus menjelaskan bahwa semua itu terjadi karena tuntunan Tuhan sendiri.
Ia menceritakan kembali penglihatannya: kain besar turun dari langit berisi berbagai jenis binatang, dan suara Tuhan berkata untuk menyembelih dan makan. Awalnya Petrus menolak, karena ia berpegang pada aturan yang menganggap beberapa makanan najis. Tetapi Tuhan menjawab, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Yang artinya adalah Tuhan tidak sedang berbicara tentang makanan, melainkan tentang manusia—bahwa tidak seorang pun boleh dianggap najis atau ditolak, karena Tuhan sendiri membuka keselamatan bagi semua orang. Hal ini sudah kita bahas dalam ‘Perenungan Kisah Para Rasul 10 (Bagian 1)‘.
“Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita … bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”
Kisah Para Rasul 11:17
Ini adalah titik balik.
Orang-orang akhirnya memahami bahwa keselamatan juga diberikan kepada bangsa lain.
Dari sini kita belajar bahwa sering kali, tanpa sadar kita membatasi cara Tuhan bekerja. Kita punya “kategori” sendiri: siapa yang layak, siapa yang tidak; siapa yang bisa dipakai Tuhan, siapa yang tidak. Namun melalui peristiwa ini, Tuhan menunjukkan bahwa kasih-Nya melampaui batas budaya, latar belakang, bahkan pemahaman manusia.
Karena itu, marilah kita belajar memiliki hati yang terbuka seperti Petrus—hati yang mau berubah ketika Tuhan menyatakan kehendak-Nya.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin