Mari kita belajar dari Kisah Para Rasul pasal 10, khususnya ketika Petrus mendapat penglihatan tentang berbagai binatang yang dianggap haram menurut hukum Taurat.
Ketika suara itu berkata, “Sembelihlah dan makanlah,” Petrus menolak. Baginya, menjaga diri dari yang najis adalah bentuk ketaatan. Namun Tuhan menjawab:
“Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.”
Kisah Para Rasul 10:15
Apakah ini berarti kita sudah boleh makan binatang yang sebelumnya dianggap haram? Apakah kita sudah boleh makan babi, udang, kepiting, dan lain-lain yang haram? Kita akan menjawabnya besok. Tetapi hari ini kita akan belajar makna sesungguhnya dari ayat tersebut.
Sekilas, ini memang tampak seperti soal makanan. Tetapi kemudian Petrus memahami makna yang sebenarnya: Tuhan sedang berbicara tentang manusia.
Kunci penafsirannya ada di ayat 28, ketika Petrus berkata:
“… Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut seorang pun najis atau tidak tahir.”
Kisah Para Rasul 10:28
Artinya jelas: Penglihatan itu adalah simbol.
Binatang ‘haram’ di sini melambangkan bangsa lain (non-Yahudi) yang sebelumnya dianggap “tidak tahir” oleh orang Yahudi.
Selama ini, Petrus terbiasa melihat bangsa lain sebagai “tidak tahir”. Ada batas yang jelas antara “kami” dan “mereka”.
Namun Tuhan meruntuhkan batas itu. Tuhan menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang boleh dianggap najis jika Ia sendiri telah membuka jalan keselamatan baginya.
Melalui peristiwa ini, Injil mulai menjangkau bangsa-bangsa lain, seperti Kornelius dan keluarganya.
Ini mengingatkan kita:
Kasih Tuhan tidak eksklusif. Ia tidak terbatas pada kelompok tertentu, tetapi untuk semua orang.
Oleh karena itu, marilah kita belajar melihat sesama seperti Tuhan melihat—bukan berdasarkan perbedaan, tetapi dengan kasih yang menjangkau semua orang.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin