Renungan Kitab Bilangan

Perenungan Bilangan 20 – Dosa Musa

Pasal ini mencatat beberapa peristiwa, antara lain: kematian Miryam, dosa Musa di Meriba, penolakan Edom terhadap Israel, serta kematian Harun. Dan hari ini kita akan membahas dosa Musa.

Apa yang membuat Musa dianggap berdosa?

Kisah ini berawal dari bangsa Israel yang kembali bersungut-sungut karena kekurangan air (ayat 2-13). Lalu Tuhan memerintahkan Musa untuk berbicara kepada batu, tetapi “… bukannya berbicara kepada batu itu, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, ia memukulnya dua kali dengan tongkatnya.” (The Upward Look 299.3)

Meskipun Musa tidak melakukan seperti yang Tuhan suruh, air tetap keluar, tetapi Musa gagal memuliakan Tuhan di hadapan umat.

“Sebagian orang mungkin menganggap dosa [Musa] sebagai dosa yang bisa diabaikan begitu saja; tetapi Allah tidak melihat seperti manusia melihat.”

The Upward Look 299.2

“Kedua bersaudara itu berjalan di depan orang banyak, Musa dengan tongkat Allah di tangannya. Mereka sekarang sudah tua. Lama mereka telah menanggung pemberontakan dan kekeraskepalaan Israel; tetapi sekarang, akhirnya, kesabaran Musa pun habis.”

The Upward Look 299.3

“Ketika mereka dengan marah berseru, ‘Apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?’mereka menempatkan diri mereka di tempat Allah, seolah-olah kekuasaan ada pada diri mereka sendiri. Dengan kata-kata ini mereka sangat menghina Kristus, Pemimpin mereka yang tak terlihat.”

The Upward Look 299.5

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak mengizinkan Musa membawa umat Israel masuk ke negeri perjanjian (Ayat 12)? Bukankah selama Musa memimpin keluar bangsa Israel sampai saat kisah ini terjadi, belum pernah ada kesalahan yang ditemukan pada Musa? Mari kita baca jawabannya.

“Tuhan menegur para pemimpin ini, dan menyatakan bahwa mereka tidak boleh memasuki Tanah Perjanjian. Di hadapan pasukan Ibrani, Dia menunjukkan bahwa dosa pemimpin lebih besar daripada dosa orang-orang yang dipimpin.”

The Upward Look 299.5

Jadi dari sini kita belajar tiga hal:

Pertama, ketidaksabaran dan kemarahan menuntun pada ketidaktaatan.

Kedua, tindakan Musa kelihatannya kecil, namun memiliki dampak yang besar.

Ketiga, sebagai pemimpin rohani, kita punya tanggung jawab dan tuntutan yang lebih besar.

Marilah kita semua belajar dari kisah Musa ini dan kiranya kita semua tidak melakukan seperti yang dilakukan Musa.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Titus 1 (Bagian 1) – Janji Allah Tidak Pernah Gagal

“dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah…

18 hours ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 8) – Injil Tidak Dapat Dipenjarakan

Kitab Kisah Para Rasul ditutup dengan sebuah pemandangan yang sederhana, tetapi penuh makna. Paulus memang…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 7) – Tetap Setia Menyampaikan Kebenaran

Sesampainya di Roma, Paulus tidak membuang waktu. Meskipun masih berstatus sebagai tahanan rumah, ia segera…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 6) – Tuhan Tidak Pernah Lupa Janji-Nya

Setelah tinggal selama tiga bulan di Pulau Malta, Paulus dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan menuju…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 5) – Jadilah Berkat di Mana Pun Tuhan Menempatkanmu

Selama tiga hari pertama di Pulau Malta, Paulus dan rombongannya diterima dengan ramah oleh Publius,…

5 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 28 (Bagian 4) – Jangan Hidup Berdasarkan Penilaian Manusia

Ketika ular berbisa menggigit tangan Paulus, penduduk Malta segera mengambil kesimpulan. Mereka berkata: "Orang ini…

6 days ago