Kebaikan yang ditunjukkan haruslah digunakan dengan bijaksana. Jangan sampai apa yang namanya “kebaikan” itu malah membuat Tuhan tidak dihormati atau menjerumuskan orang lain ke dalam jurang kematian.
Sekarang mari kita ikuti kisah Elisa yang dicemooh.
“Elisa pergi dari sana ke Betel. Dan sedang ia mendaki, maka keluarlah anak-anak dari kota itu, lalu mencemoohkan dia serta berseru kepadanya: ‘Naiklah botak, naiklah botak!’”
2 Raja-raja 2:23
Apa respons dari nabi Elisa? Apakah ia membiarkan saja dirinya dicemooh atau ada tindakan lainnya yang ia lakukan? Mari kita baca ayat selanjutnya.
“Lalu berpalinglah ia ke belakang, dan ketika ia melihat mereka, dikutuknyalah mereka demi nama TUHAN. Maka keluarlah dua ekor beruang dari hutan, lalu mencabik-cabik dari mereka empat puluh dua orang anak.”
2 Raja-raja 2:24
“Seandainya Elisa membiarkan cemoohan itu berlalu tanpa digubris, maka ia akan terus menerus diejek dan dihina oleh orang-orang yang tak tahu diri, dan pekerjaannya untuk memberi pengarahan dan menyelamatkan di saat bahaya nasional yang besar mungkin akan gagal. Satu contoh kekerasan yang mengerikan ini sudah cukup membuat ia dihormati seumur hidupnya.”
Prophets and Kings 236.1
“Apa yang disebut kelemahlembutan, bujukan dan pemanjaan, yang ditunjukkan oleh orang tua dan para pengasuh kepada anak-anak muda, adalah salah satu kejahatan terburuk yang dapat menimpa mereka. Dalam setiap keluarga, ketegasan, keputusan, tuntutan-tuntutan yang baik, adalah penting.”
Prophets and Kings 236.2
Jadi, belajarlah menjadi orang yang baik, tetapi juga tegas. Ikuti semua yang Tuhan perintahkan dan juga tanyakan kepada Tuhan apa yang harus kita jawab atau lakukan ketika kita menghadapi suatu situasi yang sulit untuk memutuskan sesuatu.
Kiranya renungan ini boleh memberkati kita semua.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin