Pernahkah kita merasa sedih atau menyesal setelah melakukan kesalahan? Tidak semua kesedihan itu sama. Ada kesedihan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, tetapi ada juga yang justru menjauhkan kita dari-Nya.
Pasal ini menyoroti dua jenis dukacita: dukacita menurut kehendak Allah dan dukacita dunia.
“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian”
2 Korintus 7:10
Keduanya mungkin terasa mirip di awal, tetapi menghasilkan akhir yang sangat berbeda:
Apa perbedaan keduanya? Hari ini kita akan membahas dukacita menurut kehendak Allah dan besok kita akan membahas dukacita dunia.
Dukacita menurut kehendak Allah adalah kesedihan yang membawa seseorang menyadari dosanya dengan jujur dan mendorongnya untuk berubah. Bukan hanya merasa bersalah, tapi berbalik dari dosa kepada Allah.
“Doa Daud setelah kejatuhannya menggambarkan keadaan duka sejati atas dosa itu. Pertobatan yang jujur dan dengan hati yang tulus dan dalam. Padanya tidak ada usaha meringankan kesalahannya; tiada ada keinginan melarikan diri dari pehukuman yang mengancam, membuat dia tekun dalam doa. Daud melihat betapa besarnya pelanggaran yang diperbuatnya, ia melihat pencemaran jiwanya, ia benci terhadap dosanya. Ia berdoa bukan hanya untuk pengampunan, tetapi juga untuk kemurnian hati.”
Steps to Christ 24.3
Inilah contoh dukacita yang menurut kehendak Allah karena dukacita seperti inilah yang akan membawa pada keselamatan. Hari ini, mari kita memeriksa hati kita: apakah kita hanya menyesal, atau sungguh-sungguh bertobat?
Kiranya renungan ini boleh memberkati kita semua.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin