Renungan

Menyembunyikan Kebenaran

Apakah kalian tahu? “Yesus tidak menyembunyikan sepatah kata pun dari pada kebenaran itu, tetapi senantiasa mengucapkannya penuh kasih” (Steps to Christ 12.1)

Luar biasa ya? Yesus tidak pernah menyembunyikan sepatah kata pun dari kebenaran artinya Ia selalu berkata yang benar, itulah sebabnya Ia berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)

Yesus memang tidak menyembunyikan sepatah kata pun dari kebenaran, Ia menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, tetapi di dalam Ia menyatakan kebenaran itu, Ia mengucapkannya dengan penuh kasih. Walaupun kita tidak boleh menyembunyikan kebenaran, tetapi bukan berarti kita langsung memberikan semua kebenaran kepada orang. Kita harus meminta hikmat dan petunjuk Tuhan kapan waktu yang tepat untuk bisa berbagi kebenaran itu. Kristus pun juga tidak memberikan semua kebenaran kepada murid-murid seperti yang tercatat di dalam Yohanes 16:12, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.”

Pada paragraf selanjutnya dari buku yang sama dikatakan bahwa “Dia mempraktikkan akal-budi yang terbesar dan penuh kebijaksanaan, dengan perhatian yang lemah-lembut dalam hubungan-Nya dengan orang banyak. Dia tidak pernah kasar, juga tak mengucapkan sepatah kata yang kejam, tidak pernah menyakiti jiwa orang yang peka dengan kesusahan. Dia tidak menghinakan kelemahan manusia. Diucapkan-Nya kebenaran, namun senantiasa dalam suasana kasih. Dia mencela kemunafikan, kurang-percaya, dan perbuatan jahat; tetapi suara-Nya mengandung butir-butir air-mata ketika Dia mengucapkan celaan-Nya yang tajam. Dia menangisi Yerusalem, kota yang disayangi-Nya, yang telah menolak-Nya, jalan, kebenaran, dan hidup. Mereka menolak Juruselamat, namun Dia memandangnya dengan haru dan kelembutan. Hidup-Nya adalah kehidupan yang penuh penyangkalan diri dan selalu memikirkan orang-orang lain. Tiap-tiap jiwa berharga di hadapan mata-Nya. Walaupun Dia mengenakan pada Dirinya Sendiri kebesaran Allah, Dia berlaku lemah-lembut kepada tiap-tiap anggota keluarga Allah. Pada setiap manusia Dia melihat jiwa-jiwa yang telah jatuh yang merupakan tugas-Nya untuk menyelamatkannya.” (Steps to Christ 12.2)

Saat kita membaca kutipan di atas, marilah kita bandingkan dengan diri kita saat ini. Mungkin ada dua pertanyaan yang bisa kita jawab dalam hati kita masing-masing.

Pertanyaan refleksi pertama, apakah saya sudah menyatakan kebenaran dan tidak sepatah kata pun dari kebenaran yang saya sembunyikan? Ataukah saya masih sering menyembunyikan beberapa kebenaran karena takut dijauhi atau bahkan dicela dan dianiaya?

Ingatlah bahwa Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:10-12)

Pertanyaan refleksi kedua, apakah dalam menyampaikan kebenaran kepada orang lain, kita sudah memiliki roh Kristus yang senantiasa menyampaikan dengan penuh kasih bukan karena ego kita atau kejengkelan kita? Ataukah kita menyampaikan kebenaran dengan kasar?

Ingatlah nasihat yang diberikan kepada kita, yaitu “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” (Kolose 4:6)

Oleh karena itu, marilah kita tidak menyembunyikan sepatah kata pun dari kebenaran dan senantiasa menyampaikan kebenaran dengan penuh kasih.

Selamat Sabat dan Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 2) – Jangan Diam

Di Korintus, pelayanan Paulus tidak selalu berjalan mudah. Ketika ia memberitakan Injil, sebagian orang mulai…

42 minutes ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 1) – Menjadi Saksi

Setelah meninggalkan Atena, Paulus tiba di Korintus. Di sana ia bertemu dengan sepasang suami istri,…

1 day ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 4) – Tetap Setia Menyampaikan Kebenaran

Setelah Paulus menjelaskan tentang Allah yang benar di Atena, ia mulai berbicara tentang pertobatan dan…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 3) – Religius Belum Tentu Mengenal Tuhan

Setelah meninggalkan Berea, Paulus tiba di Atena, sebuah kota yang penuh dengan filsafat, budaya, dan…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 2) – Kebenaran Tidak Dapat Dihentikan

Setelah banyak orang di Berea menerima firman Tuhan, kabar itu sampai kepada orang-orang Yahudi di…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 17 (Bagian 1) – Belajar Seperti Orang Berea

Dalam perjalanan pelayanannya, Paulus dan Silas tiba di Tesalonika lalu memberitakan Injil di rumah ibadat…

5 days ago