Renungan

Air Hidup yang Merubah Hidup – Part 4

Perubahan yang ketiga adalah hancurnya tembok prasangka dan permusuhan antara orang Yahudi dan Samaria. Hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Seperti yang telah kita pelajari bahwa permusuhan ini telah terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu dan telah terjadi dari generasi ke generasi. Bercakap-cakap dianggap sebagai hal yang sangat aneh, seperti yang terjadi dengan murid-murid Yesus. “Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. ….” (Yohanes 4:27).

Tetapi dengan pengenalan kepada Yesus, prasangka dan permusuhan ini dapat dipatahkan.

Yohanes 4:28-30, 39-43 mencatat,

“Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: ‘Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?’ Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus

Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: ‘Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.’ Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.’ Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea.

Yesus tidak hanya berbincang-bincang dengan orang-orang di wilayah Samaria, tetapi Yesus bahkan menginap dua hari lamanya disitu. Sungguh indah kebenaran Tuhan yang dapat menyatukan semua orang, suku, bangsa, dan bahasa.

Inilah ketiga perubahan hidup yang indah yang dialami oleh wanita Samaria:

  1. Dari penyembah allah gunung menjadi penyembah Allah Sang Pencipta.
  2. Dari wanita yang terkenal dengan hidup penuh dosa menjadi wanita yang dikenal karena kesaksiannya akan pengenalannya kepada kebenaran sejati.
  3. Dari prasangka dan permusuhan menjadi suatu ikatan persaudaraan yang indah.

Bagaimana dengan kehidupan kita masing-masing? Sudahkah kita meminum air hidup itu? Dan jika sudah, sudahkah kehidupan kita membuahkan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar?

Benih kebenaran yang telah ditanam tidak akan ada artinya jika tidak berbuah, karena saat Yesus datang nanti, Ia akan memanen buah, bukan benih. Karena itu, mari kita rajin membaca Firman Tuhan dan berdoa supaya Tuhan memberikan kita kemampuan untuk berbuah.

Selamat pagi dan Tuhan memberkati.

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 19 (Bagian 2) – Hubungan dengan Kristus

Setelah menceritakan pekerjaan Roh Kudus di Efesus, Alkitab mencatat berbagai mukjizat yang Tuhan lakukan melalui…

6 hours ago

Perenungan Kisah Para Rasul 19 (Bagian 1) – Kuasa yang Mengubahkan Hidup

Ketika tiba di Efesus, Paulus bertemu dengan beberapa murid dan mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik:…

1 day ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 4) – Hati yang Mau Diajar

Di bagian akhir Kisah Para Rasul 18, Alkitab memperkenalkan seorang bernama Apolos. Ia adalah orang…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 3) – Ketika Tuhan Menggagalkan Rencana Manusia

Ketika pelayanan Paulus di Korintus semakin berkembang, orang-orang Yahudi yang menolak Injil mulai melawan Paulus.…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 2) – Jangan Diam

Di Korintus, pelayanan Paulus tidak selalu berjalan mudah. Ketika ia memberitakan Injil, sebagian orang mulai…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 18 (Bagian 1) – Menjadi Saksi

Setelah meninggalkan Atena, Paulus tiba di Korintus. Di sana ia bertemu dengan sepasang suami istri,…

5 days ago