Seri Musik dan Para Reformator

Seri Musik & Para Reformator—Bagian 2

Reformator kedua yang akan kita pelajari adalah John Calvin dari Prancis. “Sejak awal Calvin telah menyadari nilai dari nyanyian Kristen untuk memupuk kesalehan dan ibadah gereja. … Filosofi Calvin tentang musik gereja berpegang pada dua faktor dasar: kesederhanaan dan kerendahan hati. … Karena semua perlu berpartisipasi, nyanyian harus sederhana, dan karena nyanyian itu digunakan untuk menyembah Allah yang berdaulat yang tidak terkesan dengan kompleksitas manusia, itu haruslah rendah hati.”

Di dalam buku The Voice in Speech and Song halaman 437, Ellen G. White menulis, “Standar Kristus yang tinggi akan menyatakan kesederhanaan Kristus di dalam seluruh ibadah. Ketika orang-orang yang mengaku Kristen mencapai standar yang tinggi …, kesederhanaan Kristus akan dijaga di dalam seluruh ibadah mereka.”

Apa bentuk konkrit dari kesederhanaan dan kerendahan hati di dalam ibadah yang dituliskan baik John Calvin maupun Ellen White?

Ada banyak hal tetapi prinsip yang dapat kita pegang adalah seperti yang ditulis di dalam buku Counsels on Health halaman 481, “Janganlah ada sifat pertunjukan di dalam pertemuan-pertemuan.” Hal ini supaya kita tidak berfokus pada manusia dan hal-hal yang duniawi gantinya meninggikan Tuhan di dalam pertemuan ibadah kita.

Di dalam nyanyian hendaklah kita menyanyikan dengan sederhana namun indah. Salah satu cara membuktikan bahwa kita menyanyikan lagu-lagu pujian yang sederhana adalah ketika seluruh jemaat yang hadir—pria dan wanita, anak-anak hingga orang dewasa, bahkan yang tidak pernah mendapatkan pelatihan dalam bidang musik sekalipun—dapat turut menyanyi dan memuji Tuhan. Selain itu, pada saat semua menyanyi, kita dapat fokus kepada lirik yang mengangkat hati dan pikiran kita kepada Tuhan, sehingga bukan manusia yang ditinggikan tetapi Kristus.

Kiranya kita selalu di dalam pimpinan Tuhan sehingga penyembahan kita selalu sederhana, rendah hati, dan hanya Tuhan yang ditinggikan seperti yang tertulis di dalam Mikha 6:8, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Selamat pagi, selamat Sabat, dan Tuhan menyertai kita semua.

Grow

Recent Posts

Perenungan Kisah Para Rasul 23 (Bagian 4) – Kuatkan Hatimu

Setelah perdebatan yang sengit di Mahkamah Agama, keadaan Paulus masih jauh dari aman. Ia ditolak…

23 hours ago

Perenungan Kisah Para Rasul 23 (Bagian 3) – Pengharapan Kebangkitan

Sebelum melanjutkan pembahasan kisah ini, kita sedikit membahas mengenai kebangkitan. “Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa…

2 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 23 (Bagian 2) – Hikmat di Tengah Tekanan

Setelah dihadapkan kepada Mahkamah Agama, Paulus mendapati dirinya berada di tengah situasi yang sangat sulit.…

3 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 23 (Bagian 1) – Hati Nurani yang Bersih

Setelah ditangkap di Yerusalem, Paulus akhirnya dihadapkan kepada Mahkamah Agama Yahudi untuk memberikan pembelaan atas…

4 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 22 (Bagian 6) – Menggunakan Hak dengan Bijaksana

Setelah orang banyak menolak kesaksian Paulus, kepala pasukan Romawi memerintahkan agar Paulus diperiksa dengan cambuk…

5 days ago

Perenungan Kisah Para Rasul 22 (Bagian 5) – Tetap Setia Meski Ditolak

Ketika Paulus menceritakan bagaimana Tuhan memanggil dan mengutusnya kepada bangsa-bangsa lain, reaksi orang banyak berubah…

6 days ago