Setelah menjelaskan bahwa manusia dibenarkan melalui iman dan bukan karena melakukan hukum Taurat, Paulus mengajukan sebuah pertanyaan penting: “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! ….” (Roma 3:27).
Paulus sedang mengingatkan bahwa keselamatan bukanlah hasil pencapaian manusia. Jika keselamatan dapat diperoleh karena kebaikan, usaha, atau kepatuhan kita sendiri, kita mungkin memiliki alasan untuk merasa bangga. Tetapi karena keselamatan adalah kasih karunia Allah yang diterima melalui iman, tidak seorang pun dapat membanggakan dirinya di hadapan Tuhan.
“Tidak ada apa pun dalam diri kita yang dapat kita banggakan. Kita tidak memiliki alasan untuk meninggikan diri.”
Steps to Christ 63.1
Kadang-kadang tanpa sadar kita dapat membawa cara berpikir seperti itu ke dalam kehidupan rohani. Kita merasa lebih baik karena lebih rajin beribadah, lebih banyak melayani, lebih memahami Alkitab, atau lebih lama menjadi orang percaya. Semua hal itu dapat menjadi sesuatu yang baik, tetapi tidak pernah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Paulus berkata, “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” (Roma 3:28).
Iman membuat kita menyadari bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Kita datang kepada Tuhan bukan dengan membawa daftar keberhasilan, tetapi dengan tangan yang terbuka untuk menerima kasih karunia-Nya.
Namun, menerima kasih karunia bukan berarti kita menjadi bebas untuk hidup tanpa ketaatan. Justru ketika menyadari bahwa keselamatan adalah pemberian Tuhan, hati kita seharusnya dipenuhi rasa syukur dan kerinduan untuk hidup menyenangkan-Nya.
Karena itu, jangan menjadikan kehidupan rohani sebagai perlombaan untuk membuktikan bahwa kita lebih baik daripada orang lain. Jangan pula menjadikan pelayanan sebagai alasan untuk mencari pujian.
Biarlah setiap kebaikan dan pelayanan yang kita lakukan lahir dari rasa syukur kepada Tuhan, bukan untuk meninggikan diri sendiri.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin