Renungan Kitab 1 Samuel

Perenungan 1 Samuel 25 – Kemarahan Daud dan Kesalehan Abigail

Renungan hari ini agak panjang. Sediakan waktu khusus untuk membacanya.

Selain dicatatkan mengenai kematian Samuel, ada kisah Daud, Nabal, dan Abigail. Secara singkat, Daud marah kepada Nabal karena respons dari Nabal. Lalu Abigail (istri Nabal) langsung berinisiatif untuk menemui Daud yang sedang marah.

Baca kisah lengkapnya di pasal ini. Dari kisah ini kita belajar dua hal:

Pertama, janganlah kemarahan menguasai hati kita seperti yang terjadi di kisah ini. Belajarlah untuk menjadi pribadi yang lebih sabar.

“Tindakan yang didorong oleh perasaan yang meluap-luap ini lebih mirip kepada tabiat Saul daripada tabiat Daud, tetapi anak Isai ini masih harus belajar sabar di dalam sekolah penderitaan.”

Patriarchs and Prophets 665.2

Kedua, belajarlah dari Abigail. Setelah ia tahu apa yang diperbuat suaminya (Nabal), ada respons yang diambil oleh Abigail. Baca atau dengarkan apa yang dilakukan dan dikatakan Abigail kepada Daud (baca ayat 14-31).

Mengenai apa yang dikatakan oleh Abigail, pena inspirasi mencatat demikian:

“Kata-kata seperti ini hanyalah bisa keluar dan bibir seorang yang telah mengambil bagian dalam hikmat yang berasal dan atas. Kesalehan Abigail, seperti harum semerbaknya sekuntum bunga, secara tidak sadar telah dihembuskan melalui raut muka dan perkataan dan perbuatan. Roh Anak Allah tinggal di dalam jiwanya. Kata-katanya yang digarami oleh anugerah dan penuh dengan kemurahan dan damai, telah memancarkan suatu pengaruh surga. Perasaan yang lebih baik datang kepada Daud, dan ia gemetar apabila ia merenung-renungkan apa yang akan menjadi akibat niatnya yang kejam itu. ‘Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.’ Matius 5:9. Andai kata lebih banyak lagi orang-orang seperti perempuan Israel ini, yang akan meredakan perasaan yang tersinggung, menahan dorongan hati yang kejam dan memadamkan kejahatan oleh kata-kata yang tenang dan hikmat yang terpimpin dengan baik.”

Patriarchs and Prophets 667.1

“Abigail adalah seorang penegur dan penasihat yang bijaksana. Amarah Daud hilang di bawah kuasa pengaruh dan pertimbangannya. Ia telah diyakinkan bahwa ia telah mengambil jalan yang tidak bijaksana, dan telah kehilangan kendali atas rohnya sendiri.”

Patriarchs and Prophets 667.2

Jadi, penting adanya Roh Tuhan di dalam diri kita agar setiap perkataan yang keluar dari lidah kita berasal dari hikmat Tuhan.

Jagalah lidah kita karena “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21)

Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin

Grow

Recent Posts

Perenungan Roma 8 (Bagian 14) – Tidak Ada yang Dapat Memisahkan Kita dari Kasih Allah

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada…

5 hours ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 13) – Jika Allah di Pihak Kita

“… Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Kristus Yesus, yang telah…

1 day ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 12) – Allah Menuntun Kita Menuju Kemuliaan

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka…

2 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 11) – Dibentuk Menjadi Serupa dengan Kristus

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa…

3 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 10) – Allah Turut Bekerja untuk Mendatangkan Kebaikan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka…

4 days ago

Perenungan Roma 8 (Bagian 9) – Roh Kudus Menolong dalam Kelemahan Kita

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus…

5 days ago