Renungan hari ini panjang. Pastikan Anda menyediakan waktu khusus untuk membaca sedikit lebih lama dari biasanya.
Siapakah kedua pengkhotbah itu, dan apa yang terjadi ketika mereka bertemu kembali di bawah pohon kehidupan?
Ada sebuah kisah yang menyentuh dari penglihatan pertama Ellen G. White. Dalam penglihatan itu, ia melihat perjalanan umat Tuhan menuju kota surgawi dan akhirnya sampai di tempat yang indah, tempat takhta Allah dan pohon kehidupan berada.
Di bawah pohon kehidupan itu, ia melihat dua orang yang sudah lama meninggal: Charles Fitch dan Levi Stockman.
Siapakah mereka?
Charles Fitch adalah seorang pendeta Presbiterian yang menjadi salah satu pengkhotbah terkemuka dalam gerakan Millerit. Ia memberitakan kedatangan Yesus yang kedua kali dan turut membantu menyebarkan pekabaran tersebut. Pada 1842, ia merancang bagan nubuatan yang kemudian dikenal sebagai bagan 1843. Namun Ia meninggal pada 14 Oktober 1844, delapan hari sebelum 22 Oktober 1844. Kematiannya disebakan oleh penyakit akibat paparan cuaca dingin ketika melakukan tiga pelayanan baptisan pada suatu hari musim gugur yang dingin. (Diringkas dari Ellen G. White, Early Writings pg. 298.4 dan https://encyclopedia.adventist.org/article?id=A9AJ )
Levi Stockman adalah seorang pendeta Metodis muda dari negara bagian Maine yang pada tahun 1842, bersama sekitar tiga puluh pendeta Metodis lainnya, menerima dan mulai mengkhotbahkan tentang kedatangan Kristus yang kedua kali. Ia sedang melayani di Portland, Maine, ketika kesehatannya menurun pada tahun 1843. Ia meninggal dunia karena tuberkulosis pada tanggal 25 Juni 1844. (Diringkas dari Ellen G. White, Early Writings pg. 298.5)
Keduanya meninggal sebelum 22 Oktober 1844, hari ketika banyak orang percaya mengharapkan kedatangan Yesus. Mereka tidak sempat menyaksikan peristiwa yang sangat mereka nantikan.
Namun, dalam penglihatan Ellen White, kisah mereka tidak berakhir di kubur. Dalam buku Life Sketches of Ellen G. White, pg. 67, ia menceritakan pertemuan tersebut.
Ketika mereka bertemu di bawah pohon kehidupan, Fitch dan Stockman bertanya kepada orang-orang percaya tentang apa saja yang telah mereka alami selama kedua pengkhotbah itu tidur dalam kematian.
Mereka mencoba mengingat cobaan-cobaan terberat yang pernah dihadapi. Akan tetapi, ketika melihat kemuliaan yang mengelilingi mereka, penderitaan itu terasa begitu kecil sehingga mereka tidak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata.
Akhirnya, mereka semua berseru:
“Haleluya! Surga sungguh sepadan dengan harga apa pun!”
Lalu mereka memetik kecapi mereka yang mulia, hingga gema suaranya memenuhi lengkungan-lengkungan surga.
— Ellen G. White, Life Sketches of Ellen G. White, p. 67.
Setelah keluar dari penglihatan tersebut, Ellen White menceritakan bahwa dunia di sekelilingnya terasa begitu gelap. Ia menangis dan merasa rindu kembali ke tempat indah yang telah dilihatnya. Pengalaman itu kemudian ia bagikan kepada orang-orang percaya di Portland, yang mendapatkan penghiburan dan kekuatan setelah Kekecewaan Besar pada Oktober 1844.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kematian dan penderitaan bukanlah akhir dari pengharapan orang percaya.
Mungkin kita sedang melewati masa yang berat. Mungkin kita telah kehilangan seseorang yang sangat kita kasihi, menghadapi penyakit, atau mengalami pergumulan yang terasa begitu panjang. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semua itu tidak menyakitkan. Namun, kita dapat menjalani semuanya dengan pengharapan karena Tuhan telah menjanjikan masa depan yang jauh lebih baik.
Ungkapan “surga sungguh sepadan dengan harga apa pun” bukan berarti kita membeli keselamatan melalui penderitaan, tetapi ketika kemuliaan kekal dinyatakan, penderitaan yang dahulu kita alami tidak akan sebanding dengan sukacita yang Tuhan sediakan.
Kita mungkin belum melihat kemuliaan yang dijanjikan, tetapi kita dapat tetap setia karena percaya kepada Dia yang menjanjikannya.
Kiranya kisah ini menguatkan kita untuk terus setia, tetap percaya, dan menantikan hari ketika Kristus datang kembali. Sebab pengharapan kita bukan sekadar bahwa penderitaan akan berakhir, melainkan bahwa Tuhan akan menggenapi janji-Nya dan membawa umat-Nya kepada kehidupan yang kekal.
Selamat pagi dan Tuhan memberkati kita semua. Amin
“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah…
“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan…
“Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh…
“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut…
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1 …
Pada bagian sebelumnya, kita melihat bahwa keinginan untuk berbuat baik tidak selalu cukup untuk mengatasi…